My Photo

Shout Box!

Powered by Friendster Blogs

stats

  • Web Tracker

« November 2007 | Main | January 2008 »

Teman-teman yg Ajaib

Waktu itu saya lagi nonton pilem yang judulnya "Selamanya" sama Lidia. Bukan pilem paporit saya sih, soalnya nggak lucu. Tipe pilem romantis2 sedih gitu. Pilemnya sendiri tentang cowok ama cewek yang waktu SMA pernah pacaran, trus putus. Si cowok melanjutkan hidup en about to get married with another woman sementara mantan ceweknya terjebak narkoba. Singkatnya aja ya, pada suatu ketika mereka ketemu lagi, segala macem segala macem, CLBK gitu, trus pokoknya mantan ceweknya ini masuk rumahsakit gitu. Adegan sedih nih. Cewek ini *saya lupa namanya* terbaring nggak berdaya gitu di ranjang rumah sakit. Trus cowoknya *saya juga lupa namanya* muncul dengan mata sembab. Terjadilah dialog ini:

Cewek: "Kamu habis nangis?"
Cowok: "Ah, nggak" *sambil ngusep2 mata*

Tiba2 suasana haru di kamar saya dipecahkan oleh pertanyaan Lidia:

Lidia: "Kenapa ya Yo, kok di pilem2 itu pasti nanyanya: "Kamu habis nangis?" Kenapa bukan... hmmm... "Kamu habis ee*?"
Saya: Langsung ngakak nggak berenti2 sampe keluar aer mata. Aduh,,, saya ngebayangin kalo beneran ada dialog dalem pilem yg begitu. Huahaha... Lidia... Lidia... Kasian sama si aktor ama aktris yg lg akting di pilem itu, dua penontonnya ini bukannya nangis minimal terharu sama adegan di rumah sakit itu malah ketawa gak berenti2.

Itu tadi Lidia, temen saya. Laen lagi si Dwi. Berhubungan dengan rumahsakit jg nih.  Ceritanya si Dwi ini abis hospitalized kira2 5 harian gitu. Namanya reinkarnasi ulet keket, dia mana betah disuruh diem selama itu. Orang2 yg ngejenguk juga pada g pecaya kalo Dwi bener2 sakit karna tingkahnya yg kayak anak hiperaktif gitu. Suster2 aja kalo meriksa Dwi gak bisa gak ketawa. Pada suatu pagi, datanglah seorang suster yang mengaku bernama Suster Ica. Si suster meriksa tensi darah en suhu tubuhnya Dwi. Setelah itu Suster Ica nanya ke Dwi:

Suster Ica: "Sekarang apa yg dirasakan Mbak?"
Dwi: *dengan muka disetel innocence* "Kangen, Suster..."
Suster Ica: *nyengir lebar banget karna ngerasa dikerjain*
Dwi & Saya: Ketawa2 bedua negeliatin susternya

Besoknya ada suster Iin yang cantik banget masuk, meriksa tensi en suhu tubuhnya Dwi juga. Abis meriksa tensi, si Suster-cantik-banget nempelin termometer di belakang kupingnya Dwi. Pas bunyi tiiiit... Dwi dengan gokilnya bilang "Haloo..." Huahaaha... suster-cantik-banget-kalem-juga ini aja ketawa apalagi saya-yang-nggak-cantik-banget-nggak-kalem-juga ini. Jadi tiap Suster Ica en Suster Iin masuk ke kamar pasti mereka udah cengar-cengir duluan. Siap2 kali ya, soalnya gak tau si Dwi bakal ngapain waktu mereka periksa.

Huehehe,,, temen2 saya ajaib2 deh. Saya nulis postingan ini awalnya gara2 ngeliat iklan pilem "Selamanya" di SCTV trus inget Lidia, trus inget Dwi. Hehehe... I love u girls...

                            

Tidak Menolong Adalah Sebuah Kejahatan

There was a girl I used to know
She was oh so beautiful
But she's not here anymore
She had a college degree
Smart as anyone could be
She had so much to live for
But she fell in love
With the wrong kinda man
He abused her love and treated her so bad
There was not enough education in her world
That could save the life of this little girl


How come how long, lagu lama dari Stevie Wonder yang lirik dan video klipnya menggambarkan ironi. Tentang seorang istri korban kekerasan dalam rumah tangga yang kerap dipukuli dan dilecehkan secara verbal oleh suaminya sementara sang anak hanya bisa ’menonton’ karena-mungkin-tidak tahu harus berbuat apa. Pasangan suami-istri itu sangat sering bertengkar hebat. Sebenarnya tetangga dan orang-orang disekitarnya tahu dan sadar pada kejadian itu tapi tidak ada satupun yang berani melerai. Bahkan untuk mengetuk pintu dan bertanya what’s going on pun mereka ragu dan akhirnya apartemen yang ditinggali suami istri yang seringkali ribut itupun hanya dilewati begitu saja.


She tried to give a cry for help
She even blamed things on herself
But no one came to her aid
Nothing was wrong as far as we could tell
That's what we'd like to tell ourselves
But no, it wasn't that way
So she fell in love
With the wrong kinda man
And she paid with her life
For loving that man
So we cannot ignore,
We must look for the signs
And maybe next time we might save
somebody's life


Entah budaya atau kebiasaan, kebanyakan kita cenderung ‘takut’ menolong. Kalau ada orang berkelahi di pinggir jalan, coba lihat berapa yang melerai? Kebanyakan hanya bisa menonton karena tidak ingin ’ikut campur’ urusan orang. Begitu juga kalau tetangga kita misalnya, bertengkar hebat sampe gebuk-gebukan. Kebanyakan kita langsung menutup pintu dan tirai rapat-rapat. Well, mungkin menyisihkan kira2 sejengkal sebagai sarana mengintip apa yang sedang terjadi. Saya ingat waktu saya kecil dulu, ada tetangga saya yang tidak cukup sabar menghadapi hidup dan anak-anaknya. Kesalahan-kesalahan kecil anak-anaknya kerap berbuntut hukuman yang tidak ringan. Salah satu anak perempuannya, mulutnya pernah dijejali cabe ulek karena memecahkan sebuah piring. Anak laki-lakinya pernah diikat di pohon depan rumah, ditelanjangi dan dicambuki dengan ikat pinggang. Dan nggak ada, saya ulangi, nggak ada satu orang dewasa pun yang keluar dari rumah mereka untuk mencegah atau menghentikan sang ibu dari menyiksa anak-anaknya.

 

Pertanyaannya adalah mengapa. Mengapa kita tidak cukup berani bertindak? Mengapa kita tidak cukup peka untuk mendengar ’teriakan’ minta tolong orang-orang di sekeliling kita?

 

Dalam video klip itu, sang istri yang sudah tidak tahan lagi akhirnya berkemas dan mengepak barangnya. Siap untuk pergi dari rumah. Sebelum ia selesai, suaminya sudah datang dan memukulinya lagi dan lagi. Anak mereka kehilangan satu orangtuanya. Mungkin untuk mempertahankan diri, sang istri akhirnya membunuh suaminya sendiri....


 

And we cannot ignore
Whenever we see the signs
'Cause any kind of abuse
God knows, it's a crime...

How come, how long
It's not right, it's so wrong
Do we let it just go on
Turn our backs and carry on
Wake up, for it's too late
Right now, we can't wait
She won't have a second try
Open up your hearts
As well as your eyes...