Pak Harto Wafat: Sebuah Sirkus
Setelah melalui penderitaan dan kesakitan yang pasti berat, Pak Harto wafat. Indonesia berkabung. Atau setidaknya yang tampak dan yang diberitakan seperti itu. Pemerintah menetapkan tujuh hari setelah wafatnya Pak Harto sebagai hari berkabung nasional. Orang-orang mengiringi jenazah Pak Harto sejak dari RSPP sampai ke Cendana kemudian ke Astana Giri Bangun. Aktifitas ekonomi di beberapa tempat malah sempat terhenti. Toko-toko tutup. Masyarakat memilih tinggal di rumah untuk menyaksikan hidup Pak Harto dan jasa-jasanya (?) di semua stasiun televisi. Seorang teman gerah. Ia menggerutu karena sinetron favoritnya urung tayang, digantikan acara entah apa tentang Pak Harto. Esoknya ia masih harus menahan geram: serial India favoritnya juga tidak tayang. Lagi2 digantikan "Pak Harto".
Pak Harto yang hebat, Pak Harto yang berjasa. Televisi menayangkan suasana Indonesia yang ditinggal "salah satu putra besarnya". Di Padang, Makasar, bahkan pelosok jawa, orang-orang menangis, berduka, berdoa, bahkan menciptakan puisi untuk jasa-jasa Pak Harto yang tidak ada bandingnya. Seorang Nenek fauziah bahkan tidak berhenti menggumamkan Yasin untuk Pak Harto. Sang Nenek pun berharap, semoga presiden Indonesia lainnya bisa seperti Pak Harto. Lain lagi Ketua Fraksi Golkar yang akan mengusulkan supaya Pak Harto bisa menjadi Pahlawan Nasional. Dan saya pun tertawa pagi-pagi.
Saya seperti menonton sirkus. Ada keramaian. Di mana-mana orang berkerumun. Pengantar, pelayat, atau sekedar ingin tahu. Sejenak lupa harga kedelai masih meroket dan korban lumpur lapindo masih tinggal di pengungsian. Tapi saya belajar banyak pelajaran moral. Kalau ingin dosa2mu, yang paling berat sekalipun, diampuni manusia, banyak2lah menanam budi di mana2. dan kalau ingin terbebas dari pengadilan dan penjara, mati saja.


Recent Comments